Evolusi Mata

kenapa putih mata manusia memudahkan kita berkoordinasi saat berburu

Evolusi Mata
I

Pernahkah teman-teman ngobrol dengan seseorang yang memakai kacamata hitam super gelap di dalam ruangan? Rasanya pasti sedikit canggung dan tidak nyaman. Kita tidak tahu mereka sedang melihat ke mana, atau bahkan apakah mereka sungguh-sungguh memperhatikan kita. Secara insting bawah sadar, kita selalu mencari mata lawan bicara kita. Mata adalah jendela jiwa, begitu kata pepatah kuno. Tapi dari sudut pandang biologi evolusioner, mata manusia sebenarnya menyimpan sebuah misteri yang sangat aneh. Coba teman-teman bercermin dan perhatikan mata kita. Ada bagian berwarna di tengah, dan di sekelilingnya ada area putih yang sangat lebar dan mencolok. Kita menyebutnya putih mata. Bagian ini rasanya sangat normal dan biasa saja bagi kita. Tapi percayalah, di alam liar, putih mata manusia ini adalah sebuah anomali yang sangat berbahaya.

II

Mari kita jalan-jalan sebentar ke dunia binatang. Coba teman-teman perhatikan mata kucing, anjing, atau bahkan kerabat primata terdekat kita seperti simpanse dan gorila. Kita akan menyadari satu hal yang sangat konsisten. Bagian putih di mata mereka hampir tidak terlihat sama sekali. Sebagian besar bola mata hewan berwarna gelap, atau pigmennya menyatu untuk menyamarkan arah pandangan mereka. Dalam dunia sains, ini disebut sebagai gaze camouflage atau kamuflase pandangan. Kenapa arah pandangan harus disembunyikan? Karena di alam liar, tatapan mata adalah informasi yang sangat rahasia. Bagi predator seperti harimau, menyembunyikan arah pandangan berarti mangsa tidak tahu kapan ia akan menerkam. Bagi hewan mangsa, menyembunyikan tatapan berarti predator tidak bisa menebak ke mana arah mereka akan melarikan diri. Memberitahu makhluk lain ke mana kita sedang melihat adalah sebuah kelemahan fatal. Lalu, pertanyaannya, kenapa kita manusia malah secara terang-terangan memamerkan arah pandangan kita lewat putih mata yang kontras? Bukankah itu sama saja seperti memasang lampu neon di dahi kita untuk memberitahu musuh?

III

Misteri biologi ini sempat membuat para ilmuwan dan ahli sejarah garuk-garuk kepala. Manusia purba hidup di lingkungan alam yang sangat kejam. Kita tidak punya taring yang tajam. Kulit kita tipis tanpa zirah. Kita tidak bisa berlari secepat cheetah atau memanjat setangkas macan tutul. Untuk bertahan hidup, nenek moyang kita harus berburu hewan-hewan raksasa yang bisa menginjak mereka kapan saja. Coba kita bayangkan situasinya sejenak. Sekelompok manusia purba sedang mengendap-endap di padang rumput yang tinggi. Mereka harus menyergap mangsa yang insting dan pendengarannya sangat tajam. Jika ada satu ranting patah, atau satu teriakan instruksi dari pemimpin kelompok, mangsa akan langsung lari atau malah berbalik menyerang. Mereka butuh cara untuk berkomunikasi yang benar-benar sunyi, tanpa suara sedikit pun. Di titik krisis inilah, anatomi tubuh kita mengambil jalan evolusi yang sangat radikal dan aneh. Jalan ini yang akhirnya membedakan kita dari semua makhluk lain di bumi.

IV

Jawaban dari misteri besar ini dikenal dalam psikologi evolusioner sebagai Cooperative Eye Hypothesis atau hipotesis mata kooperatif. Putih mata kita berevolusi murni untuk memfasilitasi kerja sama. Bagian putih yang lebar ini—atau dalam bahasa medis disebut sclera—berfungsi sebagai latar belakang yang super kontras. Tujuannya hanya satu: agar teman-teman satu kelompok bisa melihat ke mana arah bola mata kita bergerak dengan sangat akurat, bahkan dari kejauhan. Saat berburu, nenek moyang kita cukup saling melirik. Pergerakan mata yang digeser di atas kanvas putih itu seolah memberi isyarat instruksi yang rumit: "Aku melihat mangsanya di sana, kamu memutar ke kiri, aku akan menunggu di kanan." Koordinasi diam-diam ini ternyata sangat mematikan. Secara evolusi, kita rela membuang keuntungan dari menyembunyikan arah pandangan demi mendapatkan keuntungan super yang jauh lebih besar: kemampuan untuk membaca pikiran satu sama lain. Kita menjadi predator puncak bukan karena otot yang kuat, tapi karena kemampuan berkoordinasi lewat tatapan mata. Putih mata kita, secara harfiah, adalah teknologi nirkabel pertama milik umat manusia.

V

Fakta sains ini menurut saya terasa sangat puitis dan indah. Desain biologi dasar kita seolah menjadi bukti sejarah bahwa manusia sejak awal dirancang untuk saling terhubung. Kita berevolusi untuk bisa saling "membaca" isi kepala satu sama lain, untuk berempati, dan untuk bekerja sama bertahan hidup. Itulah alasannya mengapa sampai hari ini, kontak mata terasa begitu kuat secara emosional dan psikologis. Saat kita menatap mata orang tua, pasangan, anak, atau sahabat, kita sebenarnya sedang menggunakan perangkat keras berusia ratusan ribu tahun yang sama dengan yang digunakan nenek moyang kita dulu. Jadi, mungkin pepatah lama itu memang seratus persen benar. Mata adalah jendela jiwa. Dan berkat bagian putih di mata kita, jendela itu berevolusi untuk dibiarkan terbuka lebar, agar kita bisa saling mengerti dan merasakan empati tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.